Tuhan Yesus baik

Beberapa hari ini hidup saya dipenuhi kejutan panggilan kerja; interview bahkan tawaran kerja langsung. Sebagai seorang remaja (ceilah remaja) haha tawaran-tawaran ini benar-benar membuat saya besar kepala. Langsung sombong, merasa ‘dude, am i cool or what?’.

Sering yah, kalau diperhadapkan dengan beragam hal yang membuat kita senang, kita itu bukannya memuji Tuhan malah memuji diri sendiri. Cerita ke teman-teman dengan kedok ‘ingin berbagi kebahagiaan’ tapi sebenernya lebih haus mendengar pujian, decak kagum, dan pernyataan ‘wah kamu hebat yah’. Dan saya dengan tidak bangga mengakui bahwa sebagai individu, saya adalah seseorang yang sangat sering jatuh ke lobang kesombongan. Tuhan mungkin belum pernah menegur saya secara langsung kalau saya sombong, untungnya selalu ada mama papa atau keadaan sekitar yang menyadarkan bahwa sebagai manusia, kalau saya sombong, saya itu bodoh. Lah mau sombongin apa, yang lebih pintar diluaran itu banyak, yang lebih berprestasi itu banyak, yang lebih banyak duit juga banyak.. apa yang mau saya sombongin?

Beberapa waktu yang lalu saya sempat mikir (yah saya suka mikir juga loh, kerjaan saya bukan hanya bergalau-galau ria haha), Tuhan pasti sedih setiap saya sombong. Ketika dikasi kerjaan saya malah berbangga diri, padahal kalau dipikir-pikir semua kerjaan itu berkat yang Tuhan kasih. Kalau ga ada Tuhan ga mungkin tiba-tiba ada orang yang nawarin kerjaan.. Kalau ga disayang Tuhan, ga mungkin bisa ditelpon untuk interview kerja padahal CV yang saya kasih acak kadut (tak ada foto, tak ada pula transkrip nilai. pokonya ngaco lah). Kalau ga ada berkat Tuhan diatas CV itu, CV yang saya kirim rasanya bahkan untuk dibaca aja ga menarik (dibandingkan dengan CV orang yang super rapi).

Saya sadar kalau hidup saya itu benar-benar berkat, dan kesombongan yang saya punya ini benar-benar memalukan dan pastinya menyakiti hati Tuhan. Kalau dilihat dari tingkah laku saya yang seringkali melanggar apa yang Tuhan mau, semua berkat yang saya terima sampai hari ini benar-benar ga pantas saya dapatkan. Tuhan itu layaknya papa yang sudah sering saya sakiti tapi masih ingat sama saya dan selalu menyediakan yang saya butuhkan. Mungkin itulah bedanya Tuhan sama saya sebagai manusia ya.. Tuhan sudah berjanji untuk menyediakan apa yang anaknya butuhkan, dan dengan atau tanpa kesadaran kita untuk bersyukur Dia ga pernah lupa sama janjiNya sendiri. Semua janjiNya itu Iya dan Amin :)

Tuhan mungkin belum pernah mengijinkan saya untuk hidup di tengah masalah yang secara sudut pandang orang lain melihat dianggap sangat sulit… tapi saya punya masalah saya sendiri… yang membuat saya nangis jungkir balik juga ada… dan di saat itupun Dia ada. yang denger saya nangis sesenggukan ya Tuhan doang.. yang nemenin saya ngomong-ngomong sendiri kalau bingung ya Tuhan doang.. yang negur waktu saya salah tanpa takut saya benci ya Tuhan aja.. hehe.

Jadi, teman-teman yang sering saya jadikan sasaran kesombongan (entah dengan cara pamer langsung/tidak langsung) maafin saya ya.. Jangan kagumi (atau pura-pura mengagumi) saya, kagumi saja Tuhan.. soalnya Dia memang pantas untuk diberikan segala pujian dan hormat. Dan buat teman-teman yang sekarang lagi mengernyitkan dahi, memicingkan mata, dan menganggap saya sok-sok relijius yah ga apa-apa.. Saya cuma mau berbagi.

Juga kalau-kalau ada yang mau menghakimi dan bilang saya berterima kasih cuma karena saya ga pernah hidup susah.. apapun pendapat kalian, yang saya tau pasti itu cuma kenyataan yang saya rasa tiap hari, bahwa dalam hidup saya iniĀ Tuhan Yesus baaiiiiiiiiiiiiiiiik sekali :)

  1. abbygailsutika posted this